Metode-metode Bagi Pengomunalisasian Kebingungan-Kebingungan

Sebuah Kritik atas “Anti-Massa”

Contradiction [1]
San Francisco, Agustus 1971 (dicetak 700 eksemplar)


Pamflet Anti-Massa, Metoda-Metoda Berorganisasi bagi Kolektif-Kolektif [2] menandai sebuah fase baru dari pendekomoposisian gerakan dan spectacle dari dekomposisi tersebut. Konsumsi yang menyebar luas dan pencetakan ulang pamflet tersebut adalah satu tanda dari sebuah peningkatan kritik umum (walaupun parsial) atas gerakan. Semakin jelas manifestasi-manifestasi dari “partai vanguard” Leninisme, reformisme, militansi pengorbanan diri-isme dan pemujaan terhadap martir kini dipertanyakan, dan mereka yang belum tersedot ke dalam salah satu dari berbagai macam bentuk kretinisasi total (seperti Hare Krishna dan heroin [3]) secara natural merespon apapun yang tampak mengonfirmasikan kritik mereka sendiri. Tetapi mereka yang mulai mempertanyakan karakteristik fundamental dari oposisi palsu akan menemukan dalam Metoda-Metoda sebuah konfirmasi atas setidaknya radikalitas mereka sendiri daripada kebingungan yang masih juga mereka idap. Gerakan—yang tercabik oleh kontradiksi-kontradiksi internal dan oleh kontradiksi-kontradiksi antar kesadaran palsunya sendiri dan terutama oleh semakin berkembangnya perjuangan kelas—kini menjadi spesies yang nyaris punah dan berusaha bertahan hidup dengan memroduksi mutasi-mutasinya sendiri. Anti-Massa adalah salah satu hibridanya: sebuah sup racikan dari McLuhanisme [4], anarkisme, William Burroughs [5], Maoisme dan “situasionisme” [6].

Metoda-Metoda secara tepat mengamati bahwa “gerakan itu sendiri berperilaku sebagai sebuah massa dan para organisatornya mereproduksi hirarki dari massa”. Tetapi semenjak “analisa” sosialnya murni struktural—sebuah fisik revolusi yang naif—solusi-solusinya secara sukarela diciptakan dari sebuah karakteristik yang murni struktural (antara lain, “engkau membuat revolusi dengan cara mengubah relasi-relasi sosial”). Diabstraksikan dari praksis-praksis sosial, alternatif “kelas” mereka atas “massa” adalah benar-benar sebuah hantu; dan melalui sebuah ulasan yang tidak terlalu cerdas menjadi teridentifikasi—dalam sebuah glorifikasi Hegelian yang mana adalah—melalui kolektif. Bahkan Anti-Massa menyatakan imitasi mereka sendiri saat mereka dengan tak jelas berharap “bahwa kolektif-kolektif dapat menjadi bagian dari sejarah—bagaimana mereka dapat menjadi sebuah kekuatan sosial”.

Kekuatan sosial sendiri akan mampu mentransformasikan seluruh kondisi yang eksis dengan menjadi sadar atas dirinya sendiri sebagai sebuah kelas yaitu proletariat. Kelas khusus yang mana dalam upayanya menegasikan kondisi-kondisi khusus dari ketidakberpunyaannya (sebuah kemiskinan pengalaman hidup di tengah berbagai kemungkinan material yang fantastis), harus mengorganisir dirinya secara non-hirarkis serta menghancurkan seluruh kekuatan yang terpisah. Dan proletariat telah, dalam perjuangannya di masa lampau, mensketsakan sebuah bentuk organisasional tertentu dari demokrasi langsung sebagai ekspresi atas kekuatannya sendiri—dewan pekerja. Tetapi Anti-Massa dapat mengesampingkan sejarah sebagaimana ia juga dapat gagal dalam mengembangkan sebuah kritik yang nyata atas kerja upahan—atas produksi sebagaimana juga atas konsumsi berbagai komoditi [7] dan spectacle [8]—karena tujuan utamanya hanya memberi para aktivis gerakan sebuah ideologi baru dan sebuah metoda untuk memapankan ilusi-ilusi kuno mereka. Saat Metoda-Metoda membicarakan kerja yang teralienasi, ia membicarakannya dalam sebuah fragmen—“isu tentang bagaimana menransformasikan kerja ke dalam aktivitas-diri”—dan menawarkan sebuah solusi dalam bentuk omong kosong tentang kontra-revolusioner saat “mengoreksi perilaku anti-kerja”.

Konsepsi Anti-Mass dari “kolektif” benar-benar ambigu. Di satu sisi, kolektif adalah sebuah bentuk gerakan yang eksis; di sisi lain, ia sekedar dideklarasikan sebagai “nukleus organisasional dari sebuah masyarakat tanpa kelas” menegasikan “segala bentuk hirarki”. Kolektif-kolektif dikritisi hanya karena mereka tidak merealisasikan dirinya. Tetapi praktek menyedihkan dari kolektif-kolektif gerakan—impoten secara eksternal dan mereproduksi relasi-relasi sosial dunia lama secara internal—bukanlah sekedar kegagalan dari eksperimentasi-ekperimentasi tertentu, melainkan itu adalah sebuah hasil langsung dari kebingungan paling mendasar atas beda komunalisme dengan sebuah bentuk revolusioner yang tidak mengalienasi. Konten palsu dan persatuan palsu yang diproduksi melalui kolektivisasi masalah-masalah bertahan hidup dan relasi-relasi keluarga bentuk baru bukanlah pengganti bagi ketepatan yang dituntut dalam sebuah praktek revolusioner yang koheren berdasarkan pada dasar praktek dan teoritis yang jelas, atau bagi penemuan mutual yang konkrit yang hadir dari keterlibatan yang penuh gairah dalam proyek bersama. Kolektif hanyalah sebuah pengembangan gaya baru dari isolasi dan disimulasinya.

Kenyataan dari praktik Anti-Massa sendiri terjelaskan (berkaitan dengan apa yang mereka sendiri ungkapkan) dalam bentuk yang dipilihnya. Metoda-Metoda mengambil sebuah posisi prinsipil yang jelas di dalam spectacle, gerakan pasca kelulusan yang stagnan tapi begitu membangkitkan gairah di tengah diskursus neo-Maois dan salesman Madison Avenue. Seperti hippy yang berpikir bahwa cara mengatasi alienasi adalah dengan pergi ke daerah pedesaan, Anti-Massa menawarkan sebuah aritmetika menyedihkan tentang organisasi di mana birokrasi dilawan secara kuantitatif dengan cara membatasi jumlah anggota sebuah kolektif dan mendorong kontak tatap-muka. Hal ini jelas konyol tentang bagaimana para ideolog baru yang tak koheren—kekurangan berbagai konsepsi tentang mandat, delegasi yang dapat dicopot sewaktu-waktu—bergerak memalukan saat mereka berusaha membayangkan bagaimana lebih dari lima orang dapat mengoordinasikan praktek mereka. Mereka dapat berbicara seperti demikian karena mereka memang memiliki apapun untuk dikoordinasikan selain imitasi-imitasi yang masih hangat dari praktek revolusioner, seperti distorsi Burroughsian mereka atas d├ętournement [9] subversif dari iklan dan seruan mereka bagi analisa global.

“Analisa” global mereka sendiri menelan ideologi “anti-imperialisme”nya gerakan.

Pada faktanya “provinsi-provinsi” bergerak maju dari pusat-pusat kesadaran dan motivasi politis. Dari Minnesota hingga Mekong Delta pemberontakan telah meraih koherensinya.

Di saat yang sama, mereka tetap tak menyadari gerakan global yang nyata melawan segala alienasi: apa yang “provinsial” dari Watts, Paris, Praha, Cleveland atau Gdansk [10]? Lebih jauhnya lagi, pemberontakan di negara-negara yang kurang berkembang—yang mana dalam setiap kasus hanya dapat memainkan sebuah peran sampingan sebagian besarnya—meraih koherensinya hanya sejauh menyingkirkan perjuangan-perjuangan palsu yang melayani kelas-kelas penguasa lokal (sebagai contohnya pada pemberontakan petani tahun 1956 melawan birokrasi Vietnam Utara, atau dewan-dewan pekerja Aljazair sebelum mereka dilikuidasi pada tahun 1965 oleh negara Aljazair).

Kurangnya Anti-Massa akan sebuah kritik fundamental atas kapitalisme modern identik dengan kekurangan mereka akan sebuah kritik atas negasi-palsu global dan dukungan nyatanya: berbagai bentuk oposisi palsu. Apa yang disebut “gerakan” di Amerika Serikat tidak lebih dari sebuah spektakularisasi, sebuah mutilasi dan sebuah penetralan dari gerakan nyata yang umum dan swakelola total. Poinnya adalah untuk tidak mengambil bagian di dalamnya, melainkan mengritisinya secara teoritis maupun praksis.

Teori revolusioner saat ini menjadi musuh dari semua ideologi revolusioner dan sadar akan hal tersebut.

* * *
Anotasi Penerjemah:

[1]        Sebuah grup yang berdiri segaris dengan alur yang dibangun oleh Situationist International (selanjutnya disebut pro-situ) yang aktif di seputaran tahun 1970–1972 di Amerika Serikat.
[2]        Pamflet Anti-Massa: Metoda-Metoda Berorganisasi bagi Kolektif-Kolektif diterbitkan oleh the Red Sunshine Gang pada 1970.
[3]        Semenjak pasca Perang Dunia II hingga era 1960–1970-an bentuk resistansi yang sangat popular adalah gerakan New Left, termasuk di dalamnya Gerakan Pembebasan Perempuan, Gerakan Kulit Hitam, Komune-Komune, Gerakan Perdamaian, yang semuanya cukup banyak mendominasi pola pikir kultur Hippy, juga terdapat Black Panther Party, Yippy dan juga Weatherman yang berada di sisi ekstrim radikal dan pro-kekerasan. Tetapi nyaris semuanya juga percaya pada kekuatan heroin—termasuk LSD—sebagai alat pembuka pikiran, dan juga Hare Krishna sebagai kekuatan religi baru.
[4] Marshall McLuhan, seorang penulis yang menjadi popular akibat bukunya The Medium is the Massage yang diterbitkan pada tahun 1967. Buku tersebut merupakan paparan mengenai bagaimana kekuatan persepsi dapat membentuk apa yang kita pikirkan dan bagaimana kita menjalani hidup—terutama mengenai bagaimana media beroperasi.
[5]        William Burroughs (1914–1997) adalah seorang penulis dari generasi Beat. Hidup sesuai generasinya yang penuh dengan obat-obatan dan seks, berkawan dekat dengan Jack Kerouac dan Allen Ginsberg, jatuh cinta dengan kehidupan para pelanggar hukum. Tulisan terkenalnya adalah Naked Lunch (1959) dan tentu saja film layar lebar Blade Runner (1979).
[6]        Istilah sarkastik yang menandakan bagaimana ide-ide yang dirangkum oleh organisasi Situastionist International (1957–1972) telah menjadi semacam ideologi—sesuatu yang sangat dicemaskan oleh para anggota organisasi itu sendiri.
[7]        Komoditi: benda-benda yang sengaja diproduksi untuk diperjualbelikan.
[8]        Spectacle: ilusi yang gunanya hanya untuk ditonton, bukan dihidupi secara langsung. Salah satu poin utama teori yang dilahirkan oleh organisasi Situationist International. Lebih lanjut baca Society of the Spectacle karya Guy Debord.
[9]        Diambil dari bahasa Perancis, d├ętournement, berarti pengalihan, penyalahgunaan, pembajakan, atau membuat sesuatu mengarah pada tujuan yang berbeda. Tidak ada kata dalam bahasa Indonesia (juga dalam bahasa lainnya) yang dapat mengakomodir seluruh arti tersebut dalam satu kata karenanya biasanya kata tersebut tetap menggunakan kata Perancis tersebut.
[10] Kerusuhan, pembakaran dan penjarahan besar-besaran di Watts, Los Angeles 1965; pemberontakan pelajar dan buruh di Paris 1968; pemberontakan popular demi mempertahankan stasiun radio di Praha 1968 melawan dominasi propaganda Uni Soviet; Gdanks adalah nama pelabuhan yang menjadi lokasi terpanas di era pemberontakan popular Polandia “Solidarnosc”. Lokasi-lokasi di mana pemberontakan popular tersebut menjadi contoh di mana para partisipannya, walaupun hanya temporer, telah berhasil dalam menyingkirkan kesadaran palsu akan kebutuhan oposisi palsu, mereka memanifestasikan sebuah kritik dalam bentuk komoditi itu sendiri, yang tanpa sadar aksi tersebut telah menjadi sebuah upaya demistifikasi atas fethisisme komoditi yang diungkapkan oleh Marx. Dalam tiap pemberontakan tersebut terjadi sebuah reaksi bukan sekedar atas bertahun-tahun ketertindasan fisik atau penghisapan ekonomi, melainkan juga pemberontakan sebagai sebuah upaya pemenuhan hasrat. Sesuai dengan “setiap orang sesuai dengan apa yang dihasratinya”—hanya saja dalam kasus-kasus tersebut hasratnya masih didominasi oleh “kebutuhan” yang diproduksi oleh sistem komoditi.

0 komentar:

Posting Komentar