Semua Agama Adalah Fasis, Solidaritas Untuk Atheis Minang


Sebuah berita mengejutkan kembali menampar telinga kami yang penuh dengan kebisingan serta omong kosong hiprokrisi masyarakat hari ini. Berita itu adalah soal ditangkapnya seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) asal kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat bernama Alexander ditangkap. Ia ditangkap dengan sebuah alasan konyol yang terdengar tidak lucu bagi kami: hanya karena ia adalah seorang atheis. Alexander merupakan pengelola grup bernama Ateis Minang di jejaring Facebook. di mana ia kemudian menjadi adminnya Pengakuan terbukanya di hadapan kumpulan idiot yang menyerangnya bagi kami adalah sebuah tindakan revolusioner.

Sikap beraninya itu kemudian direpresi dengan aksi pengeroyokan dari para fasis dengan kedok agama yang masih disusul dengan penahanan oleh pihak kepolisian. Salah satu institusi pelacur religius bernama Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian melaporkan Alexander atas kasus penodaan dan penistaan agama. Menurut pihak kepolisian, Alexander terbukti melanggar Pasal 156a Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) Ayat 1 dan 2.

Represi terhadap Alexander adalah represi terhadap kebebasan seseorang untuk menentukan pilihan serta otonomi penuh atas apa yang ia yakini. Padahal masih segar dalam ingatan kejadian hampir serupa yang baru saja terjadi, yaitu represi atas nama agama dan moralitas masyarakat hari ini yang sekarat dengan menangkapi 64 orang Punk di Aceh. Satu bukti lagi bagaimana mekanisme opresi dari semua institusi hanyalah memiliki sebuah agenda tunggal: mempertahankan kebobrokan masyarakat hirarkis hari ini.

Kejadian yang menimpa Alexander tidak mungkin dilihat sebagai sebuah iven sensasional media belaka. Bagi kami, hal itu sungguh tidak cukup dan justru akan menutupi fakta bagaimana memuakkannya hidup ketika seluruh pilihan atas hidup ditentukan oleh institusi-institusi semisal agama dan polisi. Pernyataan MUI yang menyatakan bahwa setiap orang wajib memiliki agama bagi kami adalah rantai pasifitas yang terdengar menyedihkan. Ini tak beda dengan kewajiban terjebak dalam dunia kerja upahan yang alienatif, kewajiban konsumsi barang dengan jumlah yang tak masuk akal, kewajiban untuk memilih satu sisi antara kiri dan kanan yang sama membosankannya atau milyaran kewajiban lain yang semuanya memiliki nilai yang sama: terus berlangsungnya negara dan kapital.

Meski tidak semua dari individu yang menjadi partisan temporer dalam asosiasi egois ini adalah atheis, namun bagi kami pilihan-pilihan untuk menjadi atheis atau agnostik berada sepenuhnya di bawah kontrol individualitas masing-masing orang. Menjadi atheis sama sekali bukan sesuatu yang hina, sebaliknya itu merupakan bentuk serangan langsung terhadap insitusi penindas sepanjang upaya untuk memperluas otonomi dan kontrol seseorang atas hidupnya terus diperluas. Menjadi seorang atheis, mendeklarasikannya dengan bangga dan tak mundur meski direpresi bagi kami adalah watak dari seorang individu pemberani yang patut mendapatkan respek mendalam. Tindakan revolusioner tersebut dalam tahapan awal menurut kami adalah sebuah interupsi pembuka untuk memasuki perang besar perebutan kendali atas totalitas hidup seseorang.

Pesan ini juga kami sebarkan kepada setiap atheis atau agnostik yang sedang bersembunyi untuk menunjukkan solidaritasnya. Kepada mereka yang percaya bahwa negara dan kapital adalah tirani yang mesti diruntuhkan, jangan mengacuhkan hal ini.

Panjang umur asosiasi bebas atheis - agnostik !!!
Semua agama adalah fasis !!!
Kehancuran untuk semua institusi !!!
Api untuk negara dan kapital !!!

Cinta sepenuh hati untuk Alexander karena kau adalah juga kamerad bagi kami.

1 komentar:

Unknown at: 15 Februari 2012 pukul 19.59 mengatakan...

http://oovauliansyah.web.id/blog/alex-aan-status-dan-kemelut-keyakinan/

Posting Komentar